Ratu Atut semakin kuat merakyat seperti Jangkar

PETA politik di Banten mudah berubah. bebarengan dengan wafatnya tokoh kharismatik Banten, Tubagus Chasan Sochib, yang juga orang tua Gubernur Banten, Ratu Atut. Abah, panggilan akrab Chasan Sochib adalah jangkar yang bisa mempersatukan elemen masyarakat Banten. Dari sinilah Ratu Atut akan memperkuat jangkar itu, meneruskan dan melanjutkan pembangunan Banten.

Sebelah kaki tokoh itu, dilukiskan, ada di lingkungan para jawara sementara sebelah kaki yang lain berada di lingkungan ulama. Sedangkan dia sendiri juga berada di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sebagai ketua.

“Elit politik di Banten sangat terpengaruh oleh kekuatan tradisional jawara dan ulama. Sementara ini masyarakat belum bisa terlepas dari pola tradisi dalam menentukan pilihan mereka,” jelas Presidium Jaringan Pemilih Banten (JPB), Ali Munhanief, kepada wartawan, di Jakarta Selasa 12 Juli 2011.

Menurut Ali, dengan meninggalnya Tubagus Chasan Sochib, posisi Atut dalam politik Banten akan terpengaruh. Diakui atau tidak, katanya, kharisma ayahnya itulah yang membuat Atut disegani dalam dunia politik Banten selama ini.

“Akan tetapi posisi Atut masih diuntungkan oleh jaringan politik tradisional yang sudah terbentuk selama ini,” kata Ali.

Menurut Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta itu, jaringan sosial masyarakat Banten masih dipengaruhi oleh kelompok Jawara dan Ulama yang selama ini loyal kepada Abah.  Selain itu perilaku pemilih di Banten secara tradisional masih sulit bertransformasi menjadi pemilih modern.

Senada dengan Presidium JPB itu, Ketua Laboratorium Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Abdul Hamid, bahwa menjelaskan posisi Atut akan sulit dan rumit, sebab Atut begitu menjiwai Ayahnya, dapat mempersatukan masyarakat Banten.

“Ayah Atut tersebut adalah tokoh yang bisa mempersatukan masyarakat Banten dari kalangan formal dan informal. Dia menjadi ketua Satuan Karya (Satkar) Ulama dan juga menjadi Ketua Pendekar Banten. Selain itu dia juga menjadi tokoh Kadin, ketiga hal ini menjadi jaminan baginya untuk disegani masyarakat Banten,” demikian tutup Hamid.Winking smile.

(dagadu, as)

Ratu Atut berbelasungkawa, tetapi tetap termotivasi bekerja untuk masyarakat Banten

tahlilanSERANG – Gubernur Ratu Atut Chosiyah mengaku aktivitasnya melayani publik tidak terganggu dengan wafatnya ayahanda (alm) Prof DR (HC) H Tb Chasan Sochib. Kata Atut, kepergian Abah menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik lagi.

“Semasa hidup ayahanda selalu berpesan kepada kami anak-anaknya untuk bekerja dan mengabdi dengan sepenuh hati untuk rakyat. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi Ibu (Atut menyebut dirinya-red) untuk mengurangi intensitas sebagai kepala daerah,” ujar Atut saat ditemui usai menggelar tahlilan di Masjid Al-Chosiyah yang berada di depan kediamannya di Jalan Bhayangkara No 51, Cipocok Jaya, Kota Serang, tadi malam.

Atut mengaku, kemarin dirinya sudah masuk kantor untuk menandatangani berbagai berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Hari ini, Atut bahkan sudah diagendakan untuk hadir di Pandeglang dalam sebuah acara. “Tadi pagi (ke­marin-red) Ibu masuk kantor langsung disodorkan setumpuk berkas yang harus ditandatangani. Sesuai pesan ayahanda, Ibu akan lebih memacu semangat untuk bekerja dan mengabdi kepada masyarakat lebih baik lagi. Ibu tidak mau mengecewakan almar­hum ayahanda,” ungkap Atut yang hampir meneteskan air mata.

Dihubungi terpisah, Sekda Banten Muhadi mengatakan, aktivitas Gubernur tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja, kata Muhadi, intensitas memang sedikit dikurangi karena masih dalam suasana berkabung. “Wajar karena memang masih berkabung. Selama sepekan ini intensitas aktivitas di luar kantor dinas memang agak dikurangi,” jelas Muhadi.

Namun demikian, Muhadi memastikan tidak ada masalah meski aktivitas Gubernur di luar ruangan sedikit dikurangi. Me­nurutnya, sudah ada pendelegasi­an setiap acara yang seharusnya menjadi agenda Gubernur. “Bisa Pak Wagub atau saya sendiri. Ter­masuk acara di Alun-alun Barat dalam rangka HUT Bha­yang­kara nanti malam (semalam-red), perwakilan dari Pemprov Banten tetap hadir,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, memang aktivitas di lingkungan Pemprov Banten relatif lebih sepi dari biasanya. Suasana berkabung juga masih terasa. Bahkan topik perbincangan orang-orang yang berada di area kantor gubernur, masih membahas soal mening­gal­nya Chasan Sochib.

Aktivitas di malam hari juga masih sama dengan malam ke­marin. Keluarga besar Atut masih melakukan tahlilan. Jika sebelum­nya hanya di lima titik, malam ini ditambah hingga 10 titik termasuk dua titik di Tangerang. Rencananya, tahlilan akan dilakukan selama tujuh hari. Atut yang menggelar tahlilan di Masjid Al-Chosiyah tampak ditemani oleh Wakil Gubernur Masduki dan sejumlah pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Banten. Masyarakat sekitar juga tampak memadati lokasi tahlilan. Atut yang malam itu meng­gunakan pakaian serbahitam sudah mulai tampak segar dibandingkan hari sebelumnya. Sekira pukul 21.00 WIB, tahlilan selesai digelar.

Chasan Sochib Dimakamkan Dekat Kuburan Ratno Timoer

chasan sochibSERANG – Isak tangis mewarnai pemakaman ayah kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chasan Sochib, Kamis (30/6) siang. Jasad almarhum dikuburkan di Pemakaman Ratu, Desa Pesangrahan, Kampung Lemburjero, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.
Chasan Sochib dikuburkan di sisi makam ayahnya, Tubagus Sochib dan ibunya, Ratu Rofiah. Kuburannya juga berdekatan dengan makam anak angkatnya, Ratno Timoer, aktor era tahun 70-an yang terkenal sebagai pemeran pendekar buta, Badra Mandrawata, Si Buta dari Goa Hantu.
Prosesi pemakaman dilakukan secara militer dipimpin Dandim Serang, Letnan Kolonel Wahyu Widodo. Ratusan warga Banten memadati lokasi pemakaman untuk melepas kepergian almarhum. Sejumlah kepala daerah dan pejabat teras di lingkungan Provinsi Banten tampak hadir dalam upacara pemakaman. Hadir juga sejumlah tokoh nasional seperti Ketua Penasehat Partai Golkar, Akbar Tanjung, dan mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiqurrahman Ruqi.
Chasan Sochib meninggal di usia 84 tahun. Almarhum meninggalkan 3 orang istri dan 24 anak. “Kami minta maaf apabila ada kesalahan yang dilakukan almarhum semasa hidupnya, baik yang disengaja maupun tak disengaja,” kata Ratu Atut Chosiyah. “Semoga iman Islam dan amal ibadahnya diterima di sisi-Nya.”

REPUBLIKA.CO.ID,

Ratu Atut Janji Lanjutkan Perjuangan Abah

ratu atut persemayaman abah

SERANG – Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah mengucapkan janjinya untuk melanjutkan perjuangan Abah untuk mensejahterakan Banten khususnya dan bangsa Indonesia, sebagaimana diajarkan almarhum ayahandanya tercinta, Prof. Dr. TB. Chasan Sochib. TB. Chasan Sochib meninggal dunia pada Kamis 30 Mei 2011, pukul 03.55 WIB di Rumash Sakit Sari Asih, Kota Serang, akibat penyakit yang dideritanya. Kepergian tokoh paling berpengaruh di Banten yang akrab dipanggil Abah ini, merupakan kehilangan besar bagi masyarakat kota para jawara itu.

Putri kesayangannya, Ratu Atut Chosiyah, tak kuasa membendung air mata kesedihan pada awal sambutannya dalam upacara pemakanan keluarga di Pesanggrahan, Kabupaten Serang. Ribuan pelayat yang hadir di pemakaman pun tenggelam dalam duka yang mendalam.

“Kami anak-anaknya telah mendapatkan banyak nasehat dan pelajaran berharga dari almarhum ayahanda kami tercinta. Dan, kami akan melanjutkan pengabdiannya kepada masyarakat, daerah dan bangsa,” tutur Ratu Atut, sambil berulang kali mengusap air matanya.

Sebagai putra daerah, jasa Tb Chasan Sochib terhadap pembangunan Provinsi Banten sangat besar. Salah satu yang terbesar adalah perannya sebagai salah satu tokoh pendiri Provinsi Banten. Beliau adalah tokoh yang mampu mengangkat budaya Banten tentang pendekar maupun pencetus organisasi profesi.

“Secara pribadi saya orang paling dekat dengan almarhum. Beliau adalah orang yang paling besar jasanya untuk pembangunan Banten,” kata salah satu pendiri Pembentukan Provinsi Banten, H Embay Mulya Syarif. Ia mengharapkan, akan bermunculan tokoh-tokoh Banten selanjutnya yang kuat dan peduli dengan pembangunan Banten.

Ribuan masyarakat Banten memadati rumah duka almarhum TB Chasan Sochib di kawasan Ciceri, Kota Serang, saat dishalatkan di Masjid Al-Bantani di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten dan saat pemakaman di Pesanggrahan, Ciomas. Mereka yang datang bukan saja dari kalangan masyarakat biasa, namun juga sejumlah pejabat.
Chasan Sochib lahir di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, tahun 1930. Almarhum merupakan putra pasangan H TB Sochib dan Hj Ratu Rafiah. Semasa hidupnya, almarhum adalah pendiri dan Ketua Umum Pengurus Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI) dari tahun 1971 sampai sekarang, Ketua Umum DPP Satkar Ulama Indonesia 2022-2015, pendiri Kadin dan Gapensi Provinsi Banten 1977, pendiri Untirta Banten 1981.

Selain itu, almarhum merupakan Ketua Umum DHD’45 Provinsi Banten, pendiri dan Pembina Ikatan Qori dan Qoriah Banten 1985, Pendiri Museum Krakatau di Carita, Pandeglang 1987, Penasehat Himpunan Keluarga Sulawesi Selatan (HKSS) 1980 sampai sekarang.

Chasan Sochib juga sebagai pendiri Koperasi Wasta Karya 1987, Pendiri Museum Banten Lama 1988, Ketua Yayangan Pembangunan Banten 1990 sampai sekarang, anggota Dewan Pertimbangan Gapensi Pusat 1990 sampai sekarang.

Usai dishalatkan, jenazah langsung diserahkan ke negara, oleh perwakilan keluarga yang juga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah kemudian menyerahkan ke Korem 063 Maulana Yusuf untuk dilakukan prosesi secara militer. Setelah kurang lebih 15 menit proses penyerahan dan upacara militer, pukul 09:45 WIB, jenazah langsung dibawa ke peristirahatan terakahirnya di Pemakaman Ratu, Desa Pesangrahan, Kampung Lemburjero, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.

Chasan Sochib dikuburkan di sisi makam ayahnya, Tubagus Sochib dan ibunya, Ratu Rofiah. Kuburannya juga berdekatan dengan makam anak angkatnya, Ratno Timoer, aktor era tahun 70-an yang terkenal sebagai pemeran pendekat buta, Badra Mandrawata, Si Buta dari Goa Hantu.

Prosesi pemakaman dilakukan secara militer dipimpin Dandim Serang, Letnan Kolonel Wahyu Widodo. Ratusan warga Banten memadati lokasi pemakaman untuk melepas kepergian almarhum. Sejumlah kepala daerah dan pejabat teras di lingkungan Provinsi Banten tampak hadir dalam upacara pemakaman. Hadir juga sejumlah tokoh nasional seperti Ketua Penasehat Partai Golkar, Akbar Tanjung, dan mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiqurrahman Ruqi.***

Sesepuh Banten Ayah Ratu Atut Wafat

Ratu Atut Chosiyah (VIVAnews/Adri Irianto)

VIVAnews - Ayah kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Prof DR HC H Tb Chasan Sochib meninggal dunia. Chasan Sochib yang juga Ketua Umum Pendekar Banten meninggal dunia Kamis 30 Juni 2011, sekitar pukul 03.55 WIB di RS Sari Asih, Serang.
Jenazah Chasan Sochib masih disalatkan di Masjid Albantani yang berada di kawasan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Banten.

Belum dipastikan di mana lokasi pemakaman. Informasi yang beredar ada dua lokasi pilihan pemakaman. Pertama, Taman Makam Pahlawan Banten dan di kampung halaman Chasan Sochib di Ciomas, Banten.

Chasan Sochib yang juga ayah kandung Ratu Atut juga merupakan ayahanda dari Wakil Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah. Almarhum juga ayah dari Walikota Serang Tb Chairul Jaman.

Mendiang juga merupakan suami dari Wakil Bupati Pandeglang, Heryani. HerYani merupakan istri kelima dari almarhum. Chasan Sochib juga merupakan mertua dari Bupati Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Tokoh Banten yang kerap dipanggil Abah ini menjabat Ketua Satuan Karya Ulama Indonesia, Ketua Umum Kadin Banten dan Ketua Umum Pendekar Banten. (Laporan: Saputra l Banten)

• VIVAnews